KASTA DAB WANGSA KESALAHAN BERABAD ABAD.

Posted: March 29, 2012 in Uncategorized

Image

Sistem catur warna telah ada sejak zaman Bali Kuno, hal ini dapat dilihat dari tulisan pada prasasti Bila tahun saka 995 (1073M) yang menyatakan ketika itu sesuai dengan konsep Catur Warna dalam agama Hindu, masing-masing warna tidaklah hak turun temurun.

Keadaan demikian berlangsung sampai pemerintahan terakhir raja Bali kuno, Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Mahapatih Gajamada yang menanklukan bali kemudian mengangkat Mpu Kresna Kepakisan dari kediri menjadi raja di Bali. Semenjak itu sistem Warna berubah menjadi sistem wangsa perlahan-lahan. Sistem wangsa ini bisa dikatakan sebagai sistem kasta ala Bali. Pada saat ditunjuk oleh Gajahmada sebagai raja di Bali Mpu Kresna Kepakisan yang merupakan seorang brahmana dari kediri (daha) segera mengubah kedudukan nya dari seorang Brahmana yang bergelar empu menjadi seorang Ksatria yang bergelar Sri.

Dengan demikian jelas sekali bahwa pada awalnya sistem wangsa belum dikenal di Bali, namun setelah Bali takluk dari Majapahit maka sistem ini ada.

Ketika itu Gajahmada menyerang bali dengan panglima-panglimanya yang memakai gelar arya. Para panglima Majapahit ini berhadapan langsung dengan para panglima Bali Aga yang bergelar KI. Dalam sejarah kita mencatat Bali diserang dari berbagai penjuru. Di desa Tianyar (pantai timur) pasukan majapahit menyerang dipimpin langsung Gajahmada. Menghadapi pasukan Bali Aga yang dipimpin oleh Ki Tunjung Tutur dan Sri Kopang. Di pantai utara (Desa Ularan) mendarat pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Arya Ularan, Arya Setong dan Arya Kutawaringin di hadapi oleh pertahan Bali aga yang dipimpin oleh Ki Girikmana dan Ki Buah. Sedang dipantai Jimbaran mendarat pasukan Arya Kenceng dan Arya Pengalasan langsung berhadapan dengan Ki Tambiyak dan Ki Gudug Basur. Sementara Ki Pasunggrigis menjadi inti kekuatan setelah sahabatnya Ki Kebo Iwa tewas akibat tipu muslihat Gajahmada.

Namun akhirnya Bali kalah dari Majapahit, sehinga raja dan Putranya pun Gugur, dan setelah itu Sri Kresna Kepakisan dan para Arya Majapahit memerintah di bali sehinga muncullah sistem wangsa. Pengelompokan wangsa-wangsa di Bali dikukuhkan dengan hukum adat yang memberikan hak-hak istimewa kepada wangsa yang lebih tinggi. Dengan adanya hak-hak istimewa itu yang melekatkan secara turun temurun semakin kuatlah anggapan masyarakatnya bahwa wangsa itu sesungguhnya sama dengan kasta.

Tetapi apakah benar dinasti Kresna Kepakisan menjadikan sistem wangsa seperti kasta?? Atau merupakan bennang merah untuk mengikat garis keturunan yang telah punah dijawa akibat pengaruh islam.

Tapi yang jelas sistem wangsa mungkin saja adaptasi dari sistem kasta di india, namun yang jelas dalam agama Hindu tidak ada disebutkan kedua sistem ini. Hanya ada catur warna yang merupakan pembagian tugas berdasarkan profesi bukan dikarenakan oleh hal-hal rendah tingginya seseorang.

Dalam Bhagvadgita IV ,13 di jelaskan :

“ catur warna aku ciptakan menurut pembagian dari guna dan Karma (sifat dan pekerjaan) meskipun aku sebagai penciptanya ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan. “

Dalam Bhagvadgita XVIII, 41 di jelaskan :

“ O Arjuna tugas-tugas adalah terbagi menurut sifat watak dan kelahiran sebagaimana halnya Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra.

Namun memang susah merubah sesuatu yang sudah berabad-abad ada, sampai saat di Bali sistem ini masih ada saja, walaupun tidak seperti dulu dengan membagi hak-hak seseorang berdasarkan wangsa.

Namun masih saja ada yang mengunakan wangsa nya sebagai brahmana namun dia adalah seorang pengusaha, memang susah merubahnya. Namun mudah-mudahan kaum muda Hindu Bali kedepan semakin cerdar memahami dan bisa menyelesaikan kesalahapahaman berabad-abad ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s