Islam Dengan Jihad Nya yang Radikal???

Posted: March 7, 2012 in Uncategorized

 

Islam saat ini kerap disangkutkan dengan radikalisme. Dalam konteks Indonesia, isu radikalisme gerakan Islam bukanlah sebuah fenomena baru. Pada masa pra-kemerdekaan, radikalisme biasanya terjadi karena ada sekelompok umat Islam yang ingin memunikan ajaran agama, seraya berpandangan sebagian umat Islam tidak lagi berjalan sesuai ajaran Allah dan RosulNYA. Kelompok-kelompok semacam ini merasa perlu untuk meluruskan umat Islam yang mereka anggap ‘tersesat’ tidak hanya dengan cara dakwah bil-lisan (ucapan) akan tetapi, jika perlu, lewat tindakan dengan kekerasan (jihad) . Jadi, faktor internal menjadi pemicu keberadaan radikalisme daripada ancaman dari luar, sebagaimana yang terjadi pada masa pasca kemerdekaan.
Melompat langsung ke masa Orde Lama, aksi-aksi kekerasan yang bersimbol jihad, sebagian besarnya dilancarkan oleh aktifis gerakan Islam radikal sebagai konsekuensi label hukum murtad yang mereka sematkan pada pemerintah RI yang menolak syari’at Islam . Sementara pada masa Orde Baru, sikap radikal lebih merupakan reaksi atas sikap represif rezim terhadap lawan-lawan politik, atau setidaknya, pihak yang bersebrangan dengan dirinya. Cobalah ingat-ingat, ketika pada Februari 1985, DPR menyetujui usulan pemerintah untuk memberlakukan UU no. 3/1985 tentang kewajiban partai politik dan Golkar menjadikan Pancasila sebagai azas tunggal, berbagai kelompok Islam ada di barisan terdepan menentangnya. Buntutnya, para tokoh Islam dari barisan penentang azas tunggal ini ditangkapi, diberangus hak-hak sipilnya, dan digebug dengan sederet tindakan represif lainnya. Namun alih-alih memberangus gerakan Islam, tindakan ini justru menyuburkan keyakinan pada para aktifis gerakan radikal Islam, bahwa pemerintah Indonesia memang pemerintah yang murtad dan sah bila diperangi dengan segala cara, termasuk aksi-aksi kekerasan, dan jika perlu, lewat aksi-aksi terror.
Memasuki masa reformasi di tahun 1998, ditandai dengan semakin tegasnya kemunculan dan aktualisasi diri kelompok-kelompok radikal, yang sempat tiarap akibat tekanan rezim Orde Baru. Azyumardi Azra beranggapan, selain karena euforia demokrasi, munculnya kelompok-kelompok radikal di Indonesia juga marak lantaran dicabutnya undang-undang anti-subversi oleh Presiden Habibie. Kontan saja hal ini membuka ruang lebar-lebar bagi kelompok ekstrim untuk mengekspresikan gagasan dan aktifitas mereka (Azra, 2003:50). Sependapat dengan Azra, Zachary Abuza juga mengatakan bahwa jatuhnya rezim otoriter Soeharto memicu lahirnya kekuatan civil society secara masif, sehingga memberi ruang kepada kelompok tertentu, termasuk di dalamnya kelompok radikal (uncivil) yang mengekspresikan kepentingannya dengan cara menebarkan kebencian dan intoleransi dengan menggunakan cara-cara kekerasan (violence) .
Studi Zaki Mubarak menyebutkan pula ada dua alasan utama mengapa radikalisme Islam menguat pada masa reformasi. Pertama, faktor internal Islam, yakni ketika 2 (dua) organisasi massa Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dianggap tidak memberikan kontribusi yang jelas dalam proses Islamisasi negara. Bahkan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama cenderung moderat terhadap kebijakan-kebijakan yang “menentang Islam”. Khususnya di daerah-daerah kerusuhan seperti Ambon, Poso, dan Aceh. Kedua, faktor eksternal. Terjadi perubahan sistem ekonomi, politik, dan budaya yang kemudian dituduh sebagai grand design Barat untuk melumpuhkan negara-negara Islam dan sistem Islami. Kaum Islam radikal menyebutnya konspirasi negara-negara sekuler untuk mengurung negara berpenduduk muslim seperti Indonesia dengan sistem kapitalistis, liberalistis, dan hedonistis .
Beberapa organisasi yang kerap disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini adalah Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Laskar Jihad (LJ) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Secara umum, organisasi-organisasi diatas dikenal dan diketahui lewat aktualisasi tuntutan-tuntutan mereka yang lebih terbuka, baik dengan jalan turun jalan melakukan demonstrasi menuntut pemerintah memberlakukan syari’at islam, debat-debat public terbuka yang digelar untuk menyikapi isu-isu yang berkembang, serta secara terbuka melakukan pembelaan secara fisik atas apa yang dianggap sebagai ketidak adilan terhadap ummat Islam. Bahkan, dan ini yang kemudian nampak menonjol adalah, tidak jarang kelompok Islam militan ini melancarkan aksinya dengan menggunakan cara-cara kekerasan.
FPI diketahui termasuk sering melakukan razia ke cafe, diskotik, kasino dan lain-lain terutama di bulan Ramadhan, bahkan FPI paling dikenal sebagai ormas yang paling sering buat onar seperti preman. Laskar Jihad secara terbuka mengumumkan pengiriman ribuan anggotanmya untuk terjun di medan konflik Ambon dan Poso yang menyebabkan konflik semakin meruncing dan korban semakin banyak. Majelis Mujahidin sewaktu dibawah kepemimpinan Abu Bakar Ba’asyir cenderung dikait-kaitkan dengan berbagai aksi terorisme. Termasuk BOM Bali yang menelan banyak korban tak bersalah, di duga juga di dalangi ba’asyir, yang mengagap kaum barat adalah kafir yang boleh dibunuh, dan yang membunuh masuk sorga di janjikan. Fenomena ini pada gilirannya memantik banyak kecaman dari publik sebab keberadaannya tidak hanya meresahkan masyarakat tetapi juga menimbulkan rasa takut publik akan ancaman teror yang sewaktu-waktu bisa terjadi
Melacak akar radikalisme gerakan-gerakan Islam radikal tersebut sebetulnya sangat kompleks dan tidak berdiri sendiri. Sudah jelas bahwa radikalisme ummat Islam tidak hanya disebabkan oleh faktor ‘tunggal’ sebagaimana yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan . Aspek politik, sosial dan ekonomi juga merupakan bagian integral dan fundamental yang bisa menjadi sebab kemunculan radikalisme dan terorisme di masa kini. Beberapa studi belakangan, mengungkap realitas politisasi dan radikalisasi Islam di Indonesia . Baginya, radikalisme merupakan persoalan kompleksitas yang tidak berdiri sendiri. Meski demikian bukan berarti sebuah pemetaan sederhana tentang akar pemikiran radikalisme ini, tak dapat dilakukan.
Nah, secara ideologis, radikalisme Islam Indonesia dapat dikatakan lahir dari kawin silang antar Mesir dan Pakistan. Nama-nama seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan Abu’l A’la al-Maududi terbukti mempengaruhi pemikiran mereka membangun cara memahami Islam ala garis keras ini. Sampai 1970-1980-an tokoh-tokohnya ikut menyemangati perkembangan komunitas usroh di banyak kampus atau organisasi Islam. Jika kita menyepakati hasil kajian Solahudin, maka gerakan yang tidak dapat dikesampingkan dari fenomena gerakan radikal di Indonesia adalah gerakan Darul Islam. Solahudin menujukkan bahwa kelompok ini memainkan peranan penting dibalik berbagai gerakan radikal yang muncul di Indonesia, Bahkan tekanan demi tekanan yang dialami kelompok ini tak dapat menghapus sama sekali eksistensi mereka, dan mereka selalu berhasil melakukan adaptasi dalam berbagai keadaan .
Temuan ini sejalan dengan yang dimaksud oleh Zaki ketika menyebut para pelaku Islam radikal sebagai pemain lama dengan muka baru. Dewasa ini, terdapat 4 organisasi yang disebut Zaky sebagai pengusung radikalisme, yakni Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Hizbut Tahrir dan Laskar Jihad. Meski dengan penekanan yang berbeda-beda, disebut-sebut bahwa benang merah yang menyatukan mereka adalah tuntutan bagi formalisasi syariah Islam dalam kehidupan publik.
dalam konteks gerakan Islam, aktifitas yang tergolong radikal mempunyai beberapa kriteria tersendiri. Berkaitan dengan hal ini, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta (PPIM) (2004) sebagaimana dikutip oleh Husaini menguraikan empat kriteria radikal antara lain sebagai berikut :
1. Mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung;
2. Dalam kegiatannya mereka seringkali menggunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka;
3. Secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas;
4. Kelompok ‘Islam radikal’ seringkali bergerak secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.

Sementara, mengutip Esposito, ideology kaum Islam radikal bercirikan 6 (enam) hal. Pertama, mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat. Kedua, mereka seringkali menganggap bahwa ideologi masyarakat Barat yang sekular dan cenderung materislistis harus ditolak. Ketiga, mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk ‘kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial. Keempat, karena idelogi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan-peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat, juga harus ditolak. Kelima, mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final. Keenam, mereka berkeyakinan, bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat Muslim tidak akan berhasil tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat .

Akar Laskar Jihad: Gerakan Salafy

Membicarakan akar gerakan Laskar Jihad, kita tidak dapat melepaskan diri dari kajian tentang gerakan salafy, karena memang dari akar gerakan inilah, Laskar Jihad muncul. Secara prinsip, gerakan salafy berupaya mengembalikan pemahaman Islam menurut generasi salafus saleh, yakni Islam yang dianggap masih murni dan belum terdistorsi karena merujuk pada praktek dan pemahaman keagamaan Nabi Muhammad SAW, para sahabat Beliau, para pengikut (tabi’in) sahabat, dan pengikut dari pengikut (tabi’ut tabi’in) para sahabat. Generasi Nabi dan dua generasi sesudahnya inilah yang disebut sebagai salafus shaleh, dan tiga kurun masa hidup mereka itulah yang diyakini sebagai kurun waktu terbaik dalam perkembangan Islam .
Gerakan dakwah Salafi yang ada sekarang ini lebih dikenal sebagai neo wahhabi , yang agak berbeda dengan pengertian salafy sebagaimana dimaksud di atas. Sebutan neo Wahhabi ini tak lepas dari upaya gerakan ini dalam mewujudkan kembali isu-isu yang menjadi wacana gerakan Wahhaby, yang dicetuskan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Najd (kini bagian dari Saudi Arabia) pada abad ke-18. Ciri utama kelompok Salafy ini adalah menolak segala bid’ah (inovasi) dalam ajaran Islam, karena bid’ah sebagai inovasi tidak diperlukan bagi ajaran Islam yang sudah sempurna ini (padahal banyak yang sudah kuno).
Menurut doktrin faham Wahabi, yang diamini oleh Salafy, segala praktek yang menyimpang dari agama dianggap sebagai bid’ah. Bagi kaum Salafy, bid’ah adalah dosa besar dan pelakunya dianggap lebih berbahaya dari orang kafir. Sementara, menurut Ibnu Taimiyyah , para penyeru bid’ah, boleh dibunuh, “…bukan karena mereka murtad (keluar dari Islam), tetapi karena mereka menyebarkan kerusakan di muka bumi…” Saya perlu menyebut Ibnu Taimiyyah, karena Ibnu Taimiyyah lah tokoh utama yang sering menjadi rujukan kaum Salafy, disusul kemudian oleh Muhammad ibnu Qayyim al-Jawziyyah (1292-1350) dan Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri. (Ajaran agama apa yang mengHalal kan membunuh manusia hanya agama “setan”) Sementara, di abad 20 ini, tokoh-tokoh seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Nasharuddin al Albany, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan dan Syaikh Muhammad bin Shalih al Ustaimin kerap menjadi rujukan mereka
Selain itu, gerakan salafi ini dikenal sebagai gerakan dakwah eksklusif yang dengan mudah menganggap sesat kelompok dan gerakan lain. Selain itu, gerakan dakwah salafi dikenal sebagai gerakan dakwah anti hizbiyyah, sebuah kelompok gerakan yang anti politik Namun pada saat yang sama, mereka pun mencela penggunaan kekerasan yang ditujukan kepada pihak pemerintah yang mereka anggap sah, dan menyebut pihak demikian sebagai kaum neo
khawarij.
Dalam perkembangannya, gerakan Salafy terbagi atas setidaknya 3 (tiga) kelompok besar, sesuai dengan kecenderungan mereka. Pertama adalah salafy Yamani, yang disebut sebagai gerakan Salafy ekstrem, karena ciri mereka yang menonjol adalah sikap tanpa kompromi terhadap para pelaku bid’ah. Kedua adalah salafy haraky, yaitu gerakan salafy yang cenderung moderat dalam memandang kelompok-kelompok lain yang dianggap pelaku bid’ah . Namun kedua kelompok ini menolak cara-cara kekerasan apalagi teorisme dalam mencapai tujuan mereka. Oleh karena itu, kelompok ketiga yang memandang cara-cara kekerasan sebagai alat yang sah dalam mencapai tujuan disebut sebagai salafy jihadis. Kelompok ini menggunakan pemahaman keagamaan seperti kaum salafy, namun dalam memahami konsep jihad, mereka mengikuti pandangan dari tokoh Mujahidin Afghanistan, asy syahid Abdullah Azzam , yang diantaranya memang mengajarkan doktrin irhabiyah (terror) sebagai hal yang dibenarkan dalam jihad . (Bodoh orang yang menganut agama yang percaya meneror orang itu benar)

Gerakan Salafy di Indonesia dan Peran Ja’far Umar Thalib

Tahap permulaan munculnya kelompok dakwah salafi di Indonesia setidaknya dapat dilacak mulai pertengahan periode 1980-an. Ini ditandai dengan munculnya orang-orang berbaju gamis atau jubah (jalabiyyah), sorban (imamah) sebagai tutup kepala, model celana panjang sampai atas mata kaki (isybal), dan memelihara janggut panjang (lihyah). Untuk kaum perempuan, mereka menggunakan jilbab panjang dan cadar (niqab) untuk menutupi kepala dan muka di tempat umum. Dalam kehidupan sosial, orang-orang tersebut membuat kelompok – kelompok kecil dalam masyarakat, dan cenderung memisahkan diri dari masyarakat umum . Dalam amalan keagamaan, mereka mencoba menerapkan secara persis amalan agama yang diamalkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya. Selain itu, mereka juga menolak segala hal yang berasal dari Barat karena dianggap menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam.
Di tahun 80-an, -seiring dengan maraknya gerakan kembali kepada Islam di berbagai kampus di Tanah air- mungkin dapat dikatakan sebagai tonggak awal kemunculan gerakan Salafiyah modern di Indonesia. Adalah Ja’far Umar Thalib salah satu tokoh utama yang berperan dalam hal ini. Lahir dan tumbuh besar dalam lingkungan al Irsyad (ormas Islam yg didominasi keturunan Arab non sayyid), Ja’far menimba ilmu di pesantren Persis, Bangil, Jawa Timur, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikannya ke LPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Pertengahan tahun 1980, ia pergi ke Pakistan, belajar di Islamic Mawdudi Institute di Lahore, serta kemudian sempat pula mengunjungi Afghanistan, guna berjuang bersama mujahidin disana. Perjalanan studinya, sampai akhirnya membawa ia melanglang buana ke Timur Tengah, berjumpa dan berguru pada Syekh Muqbil bin Hadi al Wadi’i di Yaman . Dari sinilah, Ja’far mengaku dirinya menjadi seorang salafy. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah”, ia menceritakan kisahnya mengenal paham ini dengan mengatakan :

“Ketika saya belajar agama di Pakistan antara tahun 1986 s/d 1987, saya melihat betapa kaum muslimin di dunia ini tercerai berai dalam berbagai kelompok aliran pemahaman. Saya sedih dan sedih melihat kenyataan pahit ini. Ketika saya masuk ke medan jihad fi sabilillah di Afghanistan antara tahun tahun 1987 s/d 1989, saya melihat semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan mengung gulkan pimpinan masing-masing serta menjatuhkan tokoh-tokoh lain…
…..Di tahun-tahun jihad fi sabilillah itu saya mulai berkenalan dengan para pemuda dari Yaman dan Suriah yang kemudian mereka memperkenalkan kepada saya pemahaman Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Saya mulai kenal dari mereka seorang tokoh dakwah Salafiyah bernama Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i…
…Kepiluan di Afghanistan saya dapati tanda-tandanya semakin menggejala di Indonesia. Saya kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1989, dan pada Januari 1990 saya mulai berdakwah. Perjuangan dakwah yang saya serukan adalah dakwah Salafiyah…”

Ja’far Thalib sendiri kemudian mengakui bahwa ada banyak yang berubah dari pemikirannya, termasuk diantaranya sikap dan kekagumannya pada Sayyid Quttub, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang dahulu banyak ia lahap buku-bukunya. Perkenalannya dengan ide gerakan Salafy membalik kekaguman itu hingga 180 derajat menjadi sikap kritis yang luar biasa –untuk tidak mengatakan sangat benci- . Semenjak ‘beralih’ menjadi penganut faham ahlus sunnah wal jama’ah’, Ja’far sendiri mengaku ia sudah mengorganisir kegiatan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah lebih dari sepuluh tahun sebelum akhirnya mendirikan Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah atau disingkat FKASWJ.

Kelahiran Laskar Jihad
Tidak lama setelah runtuhnya Orde Baru, selama lebih kurang dua tahun (2000-2002) gerakan dakwah salafi ini melakukan mobilisasi massa dengan mendirikan sebuah organisasi gerakan Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ). Forum ini didirikan secara resmi pada 14 Februari 1998 di Solo dengan tujuan, seperti disebutkan dalam anggaran dasarnya, “…meningkatkan kualitas iman, keilmuan dan peran serta muslimin Indonesia dalam pembangunan nasional menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang diridhoi Allah”. … Tetapi seperti disebutkan dalam Anggaran Dasar itu, FKASWJ tidak bermaksud untuk berpolitik secara praktek dan secara struktural mereka tidak memiliki aliansi atau afiliasi dengan partai-partai politik.
Forum ini kemudian melakukan mobilisasi massa melalui Laskar Jihad, yang diproklamirkan pada 30 Januari 2000 oleh ustadz Ja’far Umar Thalib pada acara Tabligh Akbar, yang dihadiri oleh lebih kurang 10.000 orang yang memadati Stadion Kridosono, Yogyakarta. Selama lebih kurang dua tahun tersebut, Laskar Jihad telah mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat muslim Indonesia. Mereka mulai menarik perhatian publik ketika pada awal bulan April 2000 Laskar Jihad berhasil menggelar tabligh akbar di stadium utama Senayan yang dihadiri oleh sepuluh ribuan peserta, dimana saat itu tercetus ancaman bencana yang dihadapi Muslim Maluku berupa genosida. Ketika itu dengan lantang Ja’far Umar Thalib memproklamirkan jihad melawan musuh-musuh Kristen. Kamp pelatihan paramiliter digelar di Bogor, dan segera saja beribu-ribu pemuda bergabung dengan gerakan ini sebagai relawan untuk berjihad di pulau lada tersebut . Gerakan ini telah berhasil menggalang massa tidak kurang dari 7000 relawan dari berbagai daerah di Indonesia untuk berjihad ke Ambon .

Ideology Laskar Jihad

Secara umum, sesuai dengan akarnya yang berpijak pada ajaran faham salafy, Laskar Jihad juga menurunkan pandangan lainnya dari pemahaman keagamaan yang mereka anut. Menurut Ketua Umum FKASWJ, Ayip Syafruddin, pemahaman Al-Qur’an mereka sangat dipengaruh oleh gerakan Wahabi dan pelajaran Abu Hasan Al Ashari yang mengajurkan umat Islam untuk “kembali” ke sebuah interpretasi Islam yang lebih harfiah dan yang “tak dikontaminasi dengan adat dan budaya” . Pemahaman Al-Qur’an dan Al-Sunnah ini merupakan akar-akar pengasingannya dari masyarakat Indonesia dan melahirkan tuduhan dari masyarakat bahwa mereka “terlalu fanatik”. Akan tetapi, anggota komunitas Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sangat menentang pernyataan-pernyataan seperti ini. Kata-kata seperti “fundamentalis”, “ektrim”, “garis-keras” atau “radikal” ditolak dan mereka tuding sebagai “keresahan” dari kalangan sekular Barat dengan konsep jihad dan potensi Islam sebagai kekuatan politik.
Merujuk pada penjelasan Ayip Syafruddin, mereka menolak semua tudingan itu karena :

“…Kalau fundamentalisme satu paham yang lahir dari kalangan Kristen sendiri…, kata fundamentalisme lahir dari paham orang yang ingin bersikukuh dengan ajaran Kristen. Tapi bagi kami tidak mengenal kata itu. Yang dikenal dalam Islam adalah ada istilah faktor ittiba’ (yaitu), faktor mengikuti loyalitas terhadap ajaran agama”

Selain tidak mengakui tuduhan “radikal” mengenai kegiatan mereka dan misi sosialnya di Maluku, Ustadz Jafar Umar Thalib dan beberapa anggota Laskar Jihad lain mengaku menolak bentuk-bentuk “fundamentalisme” yang muncul dibawa bendera Islam di tempat lain di dunia ini, dan hal itu berbeda dengan apa yang mereka lakukan di Maluku .
“…Dan kami dalam posisi bukan menyerang, tetapi melakukan pembelaan diri sendiri dan kami bukan pihak teroris atau dikonotasikan terorisme. Dan kami paham karena memang dari umat Islam sendiri muncul gerakan extrim yang kami lihat sebagai pelanggaran terhadap prinsip dasar umat Islam itu sendiri. Dan terjadi berbagai tindakan extrim dalam bentuk serangan membabi buta dan brutal terhadap berbagai kepentingan Barat….dan kami mengecam sikap tersebut dan kami berprinsip bahwa Islam rahmatal lil ‘aalamin membela keadilan dan melawan kezaliman yang ditujukan kepada rakyat kami,… hanya semata itu”.

Jika diperhatikan, sikap ‘radikal’ yang dianut oleh Laskar Jihad secara khusus nampak pada keterlibatan mereka dalam konflik-konflik komunal di beberapa daerah di Indonesia, utamanya terhadap apa yang dialami oleh ummat Islam di Maluku, khususnya di Ambon. Secara umum, oleh karenanya, harus diakui bahwa keberadaan Laskar Jihad adalah sebuah reaksi atas apa yang mereka persepsikan sebagai kezaliman atas kaum Muslimin di Maluku . Dalam hal ini, menurut Noorhadi, pada dasarnya Laskar Jihad percaya akan adanya konspirasi tingkat dunia yang dipimpin oleh Amerika Serikat, yang bermaksud merendahkan Islam dan kaum Muslimin. Mereka meyakini bahwa kaum Muslimin adalah korban yang terang benderang dari konspirasi global tersebut.
Sikap curiga, dan hingga taraf tertentu, kejengkelan Laskar Jihad terhadap negara yang dianggap ikut bermain dalam konspirasi itu makin menjadi-jadi, utamanya setelah Ja’far bertemu presiden Abdurrahman Wahid. Saat itu, dengan tegas Ja’far menuntut agar Laskar Jihad dizinkan mengirim ribuan anggotanya ke medan konflik Ambon. Tetapi, presiden menolak rencana itu, sehingga Ja’far Umar beranggapan bahwa penolakan Wahid itu adalah tanda bahwa pemerintah Indonesia bermaksud membela komunitas Kristen. Menurut Ja’far, penolakan Wahid terhadap rencananya mengirim ribuan relawan Laskar Jihad ke Maluku hanyalah membuktikan kecurigaannya bahwa negara selalu diskriminatif terhadap orang Islam. Ja’far berkomentar bahwa “…Jelaslah bahwa pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak bisa atau tidak mau untuk melindungi komunitas ummat Islam. Kalau negara tidak bisa melindungi kami, maka kami harus melakukannya sendiri…” :
Yang menarik, dengan tegas, Ja’far memposisikan gerakannya sebagai pembela terdepan kepentingan ummat Islam pembela NKRI dalam konflik Ambon. Dalam bayangan Thalib, selama periode Orde Lama, Orde Baru, termasuk masa sesudah Orde Baru dibawah Abdurrahman Wahid, selalu ada kelemahan kekuasaan negara dalam menyediakan keamanan bagi warganya, dalam hal ini, ummat Islam, padahal merekalah penjaga NKRI yang sebenarnya . Ia menegaskan:

“…mengapa ummat Islam yang selalu menjadi sasaran? Karena hanya ummat Islamlah yang selalu menjadi pelopor menjaga tetap tegaknya NKRI di wilayah mana pun di Indonesia ini. Sehingga ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh pihak Kristen, maka pihak Islamlah yang pertama kali menghadapi malapetaka sampai-sampai ummat Islam terpaksa memasang salib di depan rumahnya guna melindungi diri dari kebengisan dan kebiadaban pemuda-pemuda Kristen…Ummat Islam tidak merasa lagi merasa aman walau pun hidup dan tinggal di negerinya sendiri bahkan merasa asing di tanah airnya sendiri…”
padanya….”
Disini sebenarnya terjadi ironi dan sekaligus merupakan hal yang menarik dari ideologi
Laskar Jihad. Pertama, karena faham dakwah Salafi yang dianut Ja’far, yakni Salafi Yamani, adalah faham salafy yang sebenarnya anti golongan (hizbiyyah). Namun dengan membentuk Laskar Jihad, mau tak mau Ja’far harus menceburkan diri dalam format golongan, yakni Laskar Jihad itu sendiri. Dan memang, sebagai seorang yang dikategorikan salafy Yamani, kritik utama dari kolega Ja’far Umar Thalib adalah karena dianggap telah menyalahi pandangan mereka dalam soal ini . Dengan mendirikan Laskar Jihad, Ja’far dianggap mengikuti faham hizbiyyah, sesuatu yang dianggap tercela dalam pandangan salafy Yamani.
Kedua, gerakan salafy pada dasarnya cenderung mendukung setiap pemerintahan yang mereka anggap sah. Namun pada prakteknya dalam kasus konflik Maluku, prinsip inipun sedikit banyak telah dilanggar oleh mereka sendiri, yaitu Ja’far dan para pengikutnya, meski hal itu dilakukan atas nama ummat Islam, rakyat Indonesia pembela NKRI. Memang terjadi semacam paradox dalam hal ini, sehingga melahirkan kritik terhadap Ja’far dan Laskar Jihadnya, bahkan dari kalangan Salafy sendiri. Seorang tokoh salafy, Abu Abdirrahman al-Thalibi misalnya, yang getol menulis kritik tajam terhadap gerakan ini- menyebutkan salah satu penyimpangan Salafi Yamani, yaitu bersikap melawan Pemerintah. Ia menulis :
“…Dalam beberapa kasus, jelas-jelas Salafy Yamani telah melawan pemerintah yang diakui secara konsensus oleh Ummat Islam Indonesia, khususnya melalui tindakan-tindakan Laskar Jihad di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Tanggal 6 April 2000, mereka mengadakan tabligh akbar di Senayan, tak lama kemudian mereka berdemo di sekitar Istana Negara dimana Abdurrahman Wahid sedang berada di dalamnya. Kenyataan yang sangat mengherankan, mereka bergerak secara massal dengan membawa senjata-senjata tajam. Belum pernah Istana Negara RI didemo oleh orang-orang bersenjata, kecuali dalam peristiwa di atas. Masih bisa dimaklumi, meskipun melanggar hukum, jika yang melakukannya adalah anggota partai komunis yang dikenal menghalalkan kekerasan, tetapi perbuatan itu justru dilakukan oleh para pemuda yang mewarisi manhaj Salafus Shalih. Masya Allah, Salafus Shalih mana yang mereka maksudkan…?”

Pada tanggal 12 Oktober 2002, Laskar Jihad dibubarkan berdasarkan pada sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, salah seorang tokoh salafi terkemuka dari Yaman yang menjadi panutan aktivis salafi di Indonesia. Alasan pembubaran dalam fatwa tersebut karena gerakan ini telah menyimpang dari tujuan semula untuk berjihad membela kaum Muslimin di Maluku. Selain itu, Ja’far Umar Thalib juga menambahkan bahwa situasi di Maluku telah pulih sehingga Laskar Jihad tidak lagi diperlukan terlibat dalam penanganan konflik.

Dari simpulan diatas bisa dilihat bagaimana jihad para kaum ormas islam sering sekali memang dengan alasan melindungi kaum nya, namun kenapa harus melakukan nya dengan kekerasan, bahkan terkadang kekerasan yang membabi buta terhadap orang2 yang tidak berdosa.
Terkadang jihad ini di lakukan dengan alasan penegakan kebenaran tapi pertanyaan nya kebenaran yang bagaimana yang ingin ditegakan? Kebenaran yang menghalal kan kekerasan? Ya ampun dimana otak mereka, kenapa logika mereka ditutupi oleh ajaran jihad yang tidak benar.

☺˙˘˚ƬęƦȋмǎªÇȋƗƗ˚˘˙☺ (•ˆ ▽ ˆ•)
Adi pranata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s