Image

I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau sekarang nama lengkapnya Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M. Wedasteraputra Suyasa III memang sering membuat sensasi yang mengegerkan, awal mulai dikenal sebagai bintang iklan dan juga penyayi grup FBI (fajar baru Indonesia) kemudian mulai tenar karena penolakan sampul kaset iwan fals (manusia 1/2 dewa). Arya adalah salah satu tokoh muda Hindu yang perlu dicontoh, karena keuletannya dalam membangun organisasi-organisasi hindu. namun sikap arya akhir-akhir ini mulai mendekati Abnormal. dikarenakan secara mengejutkan dia mengangkat diri (katanya diangkat oleh keturunan raja majapahit) sebagai raja Majapahit di Bali atau bisa diaktakan raja Bali. 

tentu saja seperti artikel sebelumnya RAJA SE-BALI TOLAK ABHISEKA RAJA MAJAPAHI. para raja di Bali kebakaran jengot mendengarnya. secara sejarah keturunan memang tidak ada sama sekali trah raja langsung kepada arya weda, walaupun dia bergelar gusti. putra dari seorang politikus PNI ini memang memiliki kecerdasan komunikasi yang baik, namun tindakan mengklaim diri sebagai seorang raja tidaklah pantas. 

seharusnya sebagai intelektual muda Hindu si Arya tidak perlu membuat sensasi seperti ini, untuk apa jaman sekarang menjadi Raja (kalau pun toh dia memang ditakdirkan jadi Raja) karena sekarang bukan jaman kerajaan lagi. kenapa arya harus memaksakan diri menjadi raja, bahkan bisa menimbulkan polemik sosial di Bali. karena raja-raja pada jaman sekarang ini adalah raja-raja keturunan terdahulu yang memang sudah di hormati oleh beberapa rakyatnya, sekalipun mereka tidak memiliki kekuasaan lagi. 

kami sangat menyayangkan sikap seorang Arya Weda, apa lagi dia adalah seorang ketua partai PNI-Marhaens yang notabenen sebaiknya seorang raja yang ada saat ini tidak usah berpolitik praktis, lebih baik mengayomi rakyatnya walau tanpa kekuasaan. namun sikap arya bukan seperti itu. 

arya memang pemuda hindu yang berbakat, namun sikap nya yang abnormal nya ini membuat masyarakat Hindu di Bali pada umumnya antipati dengan sikapnya. 

 

Di kutip dari NUSA Bali

Senin, 10 Oktober 2011, 04:49

GIANYAR – Rencana abhiseka (penobatan diri) I Gusti Ngurah Arya Wedakarna sebagai Raja Majahpahit,  membuat gerah raja-raja (atau oara panglingsir puri) se-Bali. Mereka sepakat menolak abhiseka Raja Majapahit ini. Alasannya, hal ini bisa memicu disintegritas kerukunan hidup bermasyarakat di Bali.
 
Penolakan itu dicetuskan dalam pertemuan ra-araja se-Bali di Ancak Saji Puri Agung Peliatan, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Minggu (9/10), yang dihadiri pula Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Semua panglingsir puri se-Bali hadir dalam pertemuan musyawarah para raja ini, termasuk Ketua Paiketan Puri-puri se-Bali, Ida Dalem Semara Putra (pewaris tahta Puri Agung Klungkung).
 
Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, serta spiritualis bintang dharma wacana Hindu, Ida Pedanda Gede Made Gunung (sulinggih dari Griya Purnawati, Desa Kemenuh, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar) juga hadir dalam musyawarah di Puri Agung Peliatan kemarin. Paruman selama 3,5 jam yang sejatinya untuk menyikapi berbagai persoalan adat dan budaya ini, kemudian lebih fokus membahas rencana abhiseka Arya Wedakarna sebagai Raja Majapahit.
 
Dari musyawarah kemarin, muncul kesepakatan para raja se-Bali untuk menolak penobatan Arya Wedakarna (tokoh muda yang notabene Ketua DPD PNI Marhaenisme Bali) sebagai Raja Mapajaphit. Penolakan ini 
dituangkan melalui surat keputusan yang ditandatangani para panglingsir puri.
 
“Intinya, dalam surat itu menyikapi prilaku kehidupan masyarakat yang berkembang kian tendensius menuju disintegritas kerukunan hidup bermasyarakat. Kami menolak oknum yang mengaku sebagai Raja Majahpahit,” jelas Ide Dalem Semara Putra seusai paruman di Puri Agung Peliatan kemarin.
 
Ida Dalem Semara Pura memaparkan, berdasarkan aspek bukti kesejarahan, di Bali tidak pernah ada Raja Majahpahit. Kendati Bali pernah di bawah kendali Kerajaan Majahpahit periode tahun 1352-1677 Masehi, menurut Ida Dalem, ketika itu Bali Dwipa dikendalikan oleh Dalem Ketut Shri Adji Kresna Kepakisan, didampingi para arya. Kemudian, menurunkan para raja se-Bali sampai Kerajaan Klungkung (Kerajaan Gelgel).
 
“Atas dasar inilah, kami tidak mengakui adanya abiseka Raja Mahajapahit di Bali,” tegas Ida Dalem. Di samping itu, lanjut Ida Dalem, pihaknya menolak secara tegas setiap usaha untuk mempolitisasi aspek tata kehidupan dan tata upacara agama Hindu dengan dalih apa pun. Panglingsir Puri Kesiman-Denpasar, Anak Agung Ngurah Kusuma Wardana, juga dengan tegas menyatakan penolakannya, “Apa-apaan ini, mendingan main sinetron saja atau menjadi raja ‘buduh’ sekalian,” katanya.
 
Sementara, Gubernur Mangku Pastika dalam sambutannya sebelum dimulainya paruman para raja se-Bali di Puri Agung Peliatan, Minggu kemarin, menyatakan pihaknya telah mencium kegiatan musyawarah tersebut akan banyak tersita oleh rencana Arya Wedakarna madeg nata (abhiseka) jadi Raja Majapahit. Menurut Pastika, pihaknya mengapresiasi jika ada anak muda dari Bali yang bisa hadir dalam pelbagai kegiatan tingkat regional maupun internasional. Namun, Pastika menyayangkan jika ada warga yang membawa-bawa nama Bali tanpa kapasitas yang jelas dari wilayah yang diwakili.
 
“Kami mendapatkan aspirasi kalau ada anak muda dari Bali yang mengaku menjadi Raja Majahpahit,” katanya. Karena itu, Pastika menunggu hasil keputusan paruman Paiketan Puri-puri se-Bali untuk melakukan tindak lanjut terkait permasalah tersebut.
 
Selain itu, Pastika juga menggarisbawahi keberadaan puri-puri di Bali yang pegang peranan sangat penting dalam upaya pelestarian adat dan budaya yang dijiwai agama Hindu. Pastika pun meminta kalangan puri untuk menyatukan langkah dan berperan aktif dalam menyukseskan program pembangunan yang bermuara ke peningkatan kesejahteraan rakyat.
 
Kalangan puri juga diharapkan Pastika bisa menjadi suri tauladan dalam mengajegkan seni dan budaya Bali. “Sebagai pemucuk krama Bali, saya harapkan para sesepuh puri memberi panutan bagi masyarakat,” pinta Pastika. Selaku Gubernur Bali, Pastika tak lupa mengingatkan sejumlah persoalan yang belakangan banyak muncul ke permukaan, termasuk kasus bernuansa adat. Kondisi ini harus disikapi dan segera dicarikan jalan keluar, jangan sampai berbagai konflik justru menjadi bumerang bagi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Dalam acara paruman para raja se-Bali kemarini, Ida Pedanda Gede Made Gunung juga angkat bicara terkait rencana abhiseka Arwa Wedakarna sebagai Raja Majapahit. Ida Pedanda mengibaratkan Bali ini sebuah lukisan yang sudah jadi dan memancarkan keindahan. “Jika tiba-tiba datang pelukis baru, terus ikut memberikan warna, sudah barang tentu akan membuat rusak lukisan itu sendiri,” sindir Ida Pedanda.
 
Sorotan tajam terkait rencana abhiseka Raja Majapahit dalam paruman di Puri Agung Peliatan kemarin disampaukan pewaris tahta Puri Pemecutan-Denpasar, Ida Cokorda Pemecutan. Pria tinggi besar ini bahkan mengajak para raja se-Bali untuk menolak undangan dansekaligus menolak kedatangan Arya Wedakarna terkait rencana abisekanya. “Nyen ento mrekak bani ngaku dadi Raja Majapahit (Siapa itu yang sok berani menganggap dirinya sebagai Raja Majahpahit,” sergah Ida Cokorda Pemecutan. “Amongken ya ngelah pasukan, pang tiyang hadapine, tiyang ten takut demi ngetohin gumi (Seberapa dia punya pasukan, biar saya yang dihadapi, saya tidak takut demi mepertaruhkan wilayah/masyarakat),” imbuhnya.
 
Ida Cokorda Pemecutan juga meminta raja-raja di Bali jangan merasa lebih agung dari yang lain. Soalnya, di Bali tinggal penduduk dari bermacam-macam trah (soroh) yang harus dihormati. “Saya juga saya mohon kepada pedanda atau pamangku, jangan mau jual banten dan muput jika ada upacara yang tidak sesuaui pakem adat dan budaya Bali,” tandas mantan politisi sepuh Golkar yang pernah berkali-kali duduk sebagai wakil rakyat Bali di MPR ini. Sementara itu, paruman para raja se-Bali di Puri Agung Peliatan kemarin merumuskan beberapa keputusan. Selain sepakat menolak rencana abhiseka Arya Wedakarna sebagai Raja Majapahit, paruman para raja juga memutuskan membentuk Sabha Kertha Dharma.
 
Sabha Kertha Dharma ini menjadi sebuah lembaga yang berfungsi memediasi persoalan-persoalan adat dan keagamaan di Bali. Lembaga Sabha Kertha Dharma ini melibatkan unsur Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali, PHDI Bali, Paiketan Puri-puri se-Bali, dan unsur pemerintah.
 
Selain itu, paruman kemarin juga memutuskan untuk memperitimbangkan dibentuknya Sekretariat Paiketan Raja-raja (Panglingsir Puri) se-Bali, serta membuat program kerja dan pertemuan rutin. Lembaga Sabha Kertha Dharma itu sendiri dibentuk, mengingat selama ini lembaga yang ada seperti MUDP Provinsi, Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP), dan PHDI sering tidak tuntas dalam menyelesaikan persoalan yang muncul. “Penyelesaiannya tidak tuntas, salah satunya karena tidak menyimak dari sudut pandang sejarah,” terang Panglingsir Puri Negara (Jembrana), Anak Agung Gde Agung.
 
Dengan lahirnya lembaga Sabha Kertha Dharma ini, lanjut dia, peran puri sebagai pengayom masyarakat bisa terwujud. Lembaga ini nantinya juga akan mensosialisasikan sejarah dan keberadaan puri di tengah masyarakat. Soal kemungkinan terjadi tumpang tindih karena selama ini adat di Bali sudah memiliki berbagai wadah, menurut AA Gde Agung, membantahnya.
 
“Karena, masing-masing wadah memiliki peranan yang berbeda-beda,” terang putra mantan Gubernur Bali pertama, almarhum Anak Agung Bagus Sutedja ini. Seusai paruman kemarin, AA Gde Agung juga mengingatkan agar puri-puri di Bali tidak berpolitik praktis. “Puri itu sebagai pengayom masyarakat, jangan berpolitik praktis,” kata raja yang juga Ketua Forum Silahturahmi Keraton Se-Nusantara ini. Salah satu politik praktis yang dimaksud AA Gde Agung adalah memasang bendera partai politik di puri. 

Anak-anak kelas B

Posted: April 9, 2012 in Uncategorized

Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian dibidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di UK. Sekolah ini hanya punya 2 kelas. Pada akhir tahun pelajaran diadakan ujian untuk membagi anak2 ke dlm kelas2 tersebut. Akan tetapi hasil ujian tersebut tidak pernah diumumkan. Anak2 rangking 1 ditempatkan bersama degan anak2 rangking 4,6,8 dan seterusnya. sedang anak2 rangking 2 ditempatkan dengan anak2 rangking 3,5,7 dan seterusnya. Semua disusun agar kedua kelas ini memiliki kesetaraan. Tidak ada perbedaan guru dan fasilitas bagi kedua kelas ini, kecuali satu hal : yg satu di sebut kls “A” dan kls “B”.
Pada kenyataanya setiap kelas sebenarnya memiliki kemampuan setara, namun di benak setiap orng anak kls A dianggap lebih ungul dibanding kls B. Bahkan anak2 kls A setelah ujian mendapat hadiah dari orang tuanya, namun anak2 kls B hanya mendapat omelan, krn diangap kurang berusaha oleh orang tuanya. Orang tua mereka tidak sadar bahwa jika dilihat dari rangking maka anak2 kls B seharusnya setara degan anak kls A, namun hal itu dirahasiakan, hanya kepala sekolah dan tim nya yang tau, guru sendiri tidak menyadarinya. Sehingga para guru bersikap berbeda saat mengajar kls B. Sepanjang tahun ilusi kelas A dan B terus dipertahankan. Lalu tiba lah ujian akhir thn brikutnya.
Hasilnya membuat merinding, tetapi tidak mengagetkan. Anak2 kls A menunjukan prestasi lebih baik dari pada anak2 kls B. Jika dilihat dari kenyataan ujian tahun lalu seharus nya anak2 kls B tidak kalah dari kls A. Skrng benar2 anak2 kls A menjadi anak kls A (nomor 1) sunguhan sedang anak2 kls B menjadi anak kls B (nomor 2) sunguhan. Inti dari cerita diatas, seperti apa mreka diajar sepanjang thn seperti apa mreka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikian lah jadinya mereka.

Image

Sistem catur warna telah ada sejak zaman Bali Kuno, hal ini dapat dilihat dari tulisan pada prasasti Bila tahun saka 995 (1073M) yang menyatakan ketika itu sesuai dengan konsep Catur Warna dalam agama Hindu, masing-masing warna tidaklah hak turun temurun.

Keadaan demikian berlangsung sampai pemerintahan terakhir raja Bali kuno, Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Mahapatih Gajamada yang menanklukan bali kemudian mengangkat Mpu Kresna Kepakisan dari kediri menjadi raja di Bali. Semenjak itu sistem Warna berubah menjadi sistem wangsa perlahan-lahan. Sistem wangsa ini bisa dikatakan sebagai sistem kasta ala Bali. Pada saat ditunjuk oleh Gajahmada sebagai raja di Bali Mpu Kresna Kepakisan yang merupakan seorang brahmana dari kediri (daha) segera mengubah kedudukan nya dari seorang Brahmana yang bergelar empu menjadi seorang Ksatria yang bergelar Sri.

Dengan demikian jelas sekali bahwa pada awalnya sistem wangsa belum dikenal di Bali, namun setelah Bali takluk dari Majapahit maka sistem ini ada.

Ketika itu Gajahmada menyerang bali dengan panglima-panglimanya yang memakai gelar arya. Para panglima Majapahit ini berhadapan langsung dengan para panglima Bali Aga yang bergelar KI. Dalam sejarah kita mencatat Bali diserang dari berbagai penjuru. Di desa Tianyar (pantai timur) pasukan majapahit menyerang dipimpin langsung Gajahmada. Menghadapi pasukan Bali Aga yang dipimpin oleh Ki Tunjung Tutur dan Sri Kopang. Di pantai utara (Desa Ularan) mendarat pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Arya Ularan, Arya Setong dan Arya Kutawaringin di hadapi oleh pertahan Bali aga yang dipimpin oleh Ki Girikmana dan Ki Buah. Sedang dipantai Jimbaran mendarat pasukan Arya Kenceng dan Arya Pengalasan langsung berhadapan dengan Ki Tambiyak dan Ki Gudug Basur. Sementara Ki Pasunggrigis menjadi inti kekuatan setelah sahabatnya Ki Kebo Iwa tewas akibat tipu muslihat Gajahmada.

Namun akhirnya Bali kalah dari Majapahit, sehinga raja dan Putranya pun Gugur, dan setelah itu Sri Kresna Kepakisan dan para Arya Majapahit memerintah di bali sehinga muncullah sistem wangsa. Pengelompokan wangsa-wangsa di Bali dikukuhkan dengan hukum adat yang memberikan hak-hak istimewa kepada wangsa yang lebih tinggi. Dengan adanya hak-hak istimewa itu yang melekatkan secara turun temurun semakin kuatlah anggapan masyarakatnya bahwa wangsa itu sesungguhnya sama dengan kasta.

Tetapi apakah benar dinasti Kresna Kepakisan menjadikan sistem wangsa seperti kasta?? Atau merupakan bennang merah untuk mengikat garis keturunan yang telah punah dijawa akibat pengaruh islam.

Tapi yang jelas sistem wangsa mungkin saja adaptasi dari sistem kasta di india, namun yang jelas dalam agama Hindu tidak ada disebutkan kedua sistem ini. Hanya ada catur warna yang merupakan pembagian tugas berdasarkan profesi bukan dikarenakan oleh hal-hal rendah tingginya seseorang.

Dalam Bhagvadgita IV ,13 di jelaskan :

“ catur warna aku ciptakan menurut pembagian dari guna dan Karma (sifat dan pekerjaan) meskipun aku sebagai penciptanya ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan. “

Dalam Bhagvadgita XVIII, 41 di jelaskan :

“ O Arjuna tugas-tugas adalah terbagi menurut sifat watak dan kelahiran sebagaimana halnya Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra.

Namun memang susah merubah sesuatu yang sudah berabad-abad ada, sampai saat di Bali sistem ini masih ada saja, walaupun tidak seperti dulu dengan membagi hak-hak seseorang berdasarkan wangsa.

Namun masih saja ada yang mengunakan wangsa nya sebagai brahmana namun dia adalah seorang pengusaha, memang susah merubahnya. Namun mudah-mudahan kaum muda Hindu Bali kedepan semakin cerdar memahami dan bisa menyelesaikan kesalahapahaman berabad-abad ini

Ternyata didalam Kabah, ada sebuah inskripsi yang merujuk kepada raja Vikramaditya. Ini membuktikan tanpa ragu bahwa jazirah Arab dulu merupakan bagian dari Kerajaan Vikramaditya dari India.

Teks inskripsi Vikramaditya yang ditemukan dalam piring emas yang digantung didalam kuil Kabah di Mekah ini, dicatat pada halaman 315 dari buku yang berjudul ‘Sayar-ul-Okul’ yang disimpan dalam perpustakaan Makhtab-e-Sultania di Istanbul, Turki. Terjemahan inskripsi tersebut :(Sayar ul Okul berarti ‘Kata-kata Berkesan’)

Beruntunglah mereka yang lahir (dan hidup) selama kuasa raja Vikram. Ia seorang penguasa penuh kasih, terhormat dan berbakti pada penduduknya. Namun pada saat itu, kami Arab, tidak peduli pada Tuhan, tenggelam dalam kenikmatan sensual. Komplotan dan penyiksaan merajalela … Kami, Arab, terjerat dalam kegelapan (jahiliyah) … namun pendidikan yang disebar raja Vikramaditya tidak mencampakkan kami, orang-orang asing. Ia menyebarkan agama sucinya diantara kami dan mengirimkan ahli-ahli yang kepintarannya bersinar seperti matahari dari negaranya kenegara kami… 

Ini bahasa Arabnya :

Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini Ela Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem. Yundan blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa- rateen phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum. (Page 315 Sayar-ul-okul).

Analisa :
Kerajaan India purbakala kemungkinan besar melebarkan sayap sampai ke Arab dan Vikramaditya-lah yang pertama merebut kawasan Arabia. Karena inskripsi itu mengatakan bahwa Raja Vikram menghilangkan jahiliyah dari Arabia. Dan, apapun agama mereka sebelumnya, orang-orangnya Vikrama sukses dalam menyebarkan ajaran Vedic (dari kitab Weda, buku suci Hindu) kedalam way of life Arabia.

Pengetahuan seni dan sains India disebarkan kepada dunia Arab lewat sekolah-sekolah, akademi dan pusat-pusat budaya. Jadi, kepercayaan bahwa orang Arab yang membawa ajaran ini kepada negara mereka lewat upaya mereka sendiri TIDAK BERDASAR.

Juga bisa disimpulkan bahwa Kutub Minar di Delhi bisa saja merupakan menara Vikramadiya untuk memperingati keberhasilannya merebut Arabia. Kesimpulan ini dikuatkan oleh dua hal :

Pertama, inskripsi pada menara tinggi dari besi didekat Kutub Minar merujuk pada perkawinan raja Vikramaditya kepada permaisuri Balhika. Balhika tidak lain dari nama kawasan Balkh di Asia Barat. Kemungkinan, Arabia direbut Raja Vikramaditya dari penguasa Balkh yang mengadakan perjanjian damai dengan memberikan puterinya sebagai pengantin.

Kedua, kota disebelah Kutub Minar bernama Mehrauli, dari nama Mihira, seorang astronomer-mathematician dari keraton Raja Vikram. Mehrauli adalah kependekan Sansekerta dari kata ‘Mihira-Awali’ yang menunjukkan barisan rumah bagi Mihira dan staf asistennya yang bekerja sebagai pengamat bingang yang dilakukan dari menara tersebut.

ARSIP DI TURKI !

Di Istanbul, Turki, ada perpustakaan termashur bernama Makhatab-e-Sultania, yang terkenal mempunyai koleksi terbesar dari literatur Asia Barat. Di bagian Arab perpustakaan tersebut ada sebuah antologi sajak Arab purbakala. Antologi ini disusun dari karya sebelumnya dari tahun 1742M dibawah perintah Sultan Salim.

Halaman volume itu terbuat dari Harir – semacam sutera yang dibuat untuk menulis. Setiap halaman memiliki pinggiran yang dihias dengan kertas emas.
Antologi itu dikenal dengan nama Sayar-ul-Okul, dan dibagi dalam 3 bagian.

Bagian pertama mengandung detil biografi dan komposisi puisi penyair Arab PRA-Islam.

Bagian kedua terdiri dari kesaksian dan sajak penyair dari periode yang dimulai tidak lama setelah Muhamad, sampai akhir dinasti Bani Ummayyah.

Bagian ketiga adalah tentang penyair sampai jaman Khalif Harun-al-Rashid.

Abu Amir Asamai, penyair Arab yang merupakan penyair utama keraton Harun-al-Rashid, menyusun dan mengedit antologi tersebut. Edisi modern pertama ‘Sayar-ul-Okul’ terbit di Berlin tahun 1864. Edisi berikutnya diterbitkan di Beirut tahun 1932.

Koleksi ini dianggap sebagai antologi paling penting dan berotoritas dalam sajak-sajak Arab purbakala. Koleksi ini menunjukkan adat, tata tertib dan hiburan Arabia dijaman purbakala. Buku ini juga mengandung penjabaran deskripsi tentang kuil purbakala Mekah, kita dan bazar tahunan yang dikenal sebagai OKAJ disekitar kuil Kabah di Mekah. Ini berarti bahwa kumpul-kumpul di Mekah setiap tahun untuk naik haji berasal dari tradisi pra-Islam.

Bazar OKAJ bukan sebuah karnaval tempat anak muda bermarijuana. Ini merupakan kesempatan kaum elit dan terpelajar untuk membahas aspek sosial, religius, politis, literatur dan aspek budaya Hindu lainnya yang menyebar di Arabia. ‘Sayar-ul-Okul’ mengatakan bahwa kesimpulan yang didapatkan dari diskusi disana diterima dan sangat dihormati diseluruh Arabia. Mekah, oleh karena itu, mengikuti tradisi Varanasi (dari India), yaitu tradisi kaum elit mendiskusikan hal-hal penting sementara kaum awan berkumpul untuk mencapai kenikmatan spiritual. Kuil utama di Varanasi (India) dan di Mekah (di Arvasthan/Arabia) adalah kuil-kuil dewa SIWA. Bahkan sampai sekarang, emblem-emblem Mahadewa Siwa masih nampak.

Dan emblem Siwa paling nampak adalah batu Shankara (Siwa) yang dihormati para pehijrah Muslim sampai disentuh dan dicium di Kabah.

Raja Vikramaditya memang terkenal cinta pada Mahadewa Siwa. Di Ujjain (India), ibukota Vikramaditya, ada kuil terkenal Mahankal, yaitu milik Dewa Shankara (Siwa) yang di-asosiasikan dengan Vikramaditya. Karena menurut inskripsi Vikramaditya, dialah yang menyebarkan agama Hindu, siapa lagi kalau begitu yang mendirikan kuil Kabah di Mekah ?

Kuil utama di Mekah, yang menyimpan lambang Siwa, dikenal sebagai KA’BAH. Kotak ini dilapisi kain hitam. Ini adalah tradisi jaman dahulu kala ketika orang menganggap penting untuk meng-kamuflase tempat suci itu (Ka’bah) agar tidak dicaplok atau direbut bangsa lain.

PATUNG DEWA- DEWI 

Menurut Encyclopaedia Britannica, kotak Ka’bah memiliki 360 patung.

Tradisi mengatakan, ketika tempat itu diserang, salah satu dewa didalamnya adalah dewa Saturnus; satunya lagi adalah dewa Bulan dan ada lagi yang disebut Allah.

Ini bukti bahwa orang Arab jaman pra-Islam itu memuja 9 planet. Di India, praktek puja ‘Navagraha’, yaitu praktek pemujaan bagi ke 9 planet, termasuk Saturnus dan Bulan masih eksis sampai sekarang.

Di India, bulan sabit selalu digambarkan diatas lambang dewa Siwa. Karena itulah, lambang Siwa dalam Ka’bah juga menjadi lambang bendera Islam.

ZAMZAM/AIR GANGGA ?

Satu lagi tradisi Hindu lainnya adalah sungai suci Gangga. Menurut tradisi Hindu, air Gangga tidak pernah dapat dipisahkan dari lambang Siwa (bulan sabit). Dimanapun ada lambang Siwa, disanalah ada air Gangga. Dan memang ! Didekat Ka’bah ditemukan sebuah sumber mata air suci yang disebut ZAMZAM.  Sampai sekarang, Zamzam dianggap suci karena tradisi jaman pra-Islam itulah !

TAWAF Tidak ada mesjid lain di dunia yang dikelilingi sampai 7 kali. Hanya orang Hindu yang ber’tawaf’ mengelilingi dewa-dewi mereka. Lagi-lagi bukti bahwa Ka’bah adalah tempat ibadah Hindu jaman pra-Islam. Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara klimaks dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian di-salah artikan dengan 7 kali). Mengingat “Makha” berarti API, ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa MEKAH ADALAH PUSAT PEMUJAAN DEWA API.

KATA ‘ALLAH’

Jangan kaget bahwa kata ‘ALLAH’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta.

Allah, Akka dan Amba adalan sinomin. Nama ini berarti : DEWI atau Ibu. Istilah ‘ALLAH’ merupakan bagian dari stanza-stanza Sansekerta yang memuja Dewi Durga, yang juga dikenal sebagai Bhavani, Chandi dan Mahishasurmardini. Islam mencaplok penggunaan kata ‘Allah’.

Satu ayat Quran merupakan terjemahan persis dari sebuah stanza dalam Yajurveda. Seperti dijelaskan oleh pakar Hindu terbesar, Pandit Satavlekar dari Pardi, dalam salah satu artikelnya.

[Note: Pakar lain menunjukkan bahwa ayat Quran dibawah ini mirip persis dengan ajaran Kena Upanishad (1.7).

Quran : “Sight perceives Him not. But He perceives men’s sights; for He is the knower of secrets, the Aware.”

(Karena tidak disertai dengan nomor ayatnya, aku tidak bisa kasih terjemahannya sesuai dengan Quran. Tapi intinya : ‘Indera mata tidak bisa melihatNya. Tapi IA melihat indera manusia; karena IA maha tahu segala rahasia’)

Kena Upanishad : “Apa yang tidak dapat dilihat dengan mata namun bisa ditembus dengan mata, itulah Brahma (Tuhan) dan bukan apa yang dipuja manusia (didunia) / That which cannot be seen by the eye but through which the eye itself sees, know That to be Brahman (God) and not what people worship here (in the manifested world).”

(Arti ayat diatas : Tuhan berada diluar indera perasa manusia)]

Identitas sistem Unani & Ayurveda menunjukkan bahwa Unani adalah istilah Arab bagi sistim penyembuhan Ayurveda yang dibawa ke Arabia saat wilayah itu masih merupakan bagian dari kerajaan India.




Image

Sudah menjadi kata yang terpadu antara cinta dan kasih. Tentu makna kasih lebih dalam dari pada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu obyek. Sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suatu obyek. Kenapa dalam mengekspresikan sikap ini selalu digunakan gabungan kata cinta dan kasih? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika seseorang baru sanmpai sebatas cinta. Lalu apa yang menjadi kebutuhan yang lebih tinggi lagi dari cinta? Dapat dipastikan jawabannya adalah kasih.

Ternyata perbedaannya terletak pada kesanggupan dan kemampuan memahami hakikat cinta dan kasih. Adapun yang menjadi obyek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Ciptaan Tuhan dapat digolongkan dalam tingkatan sesuai eksistensinya atau kemampuannya yaitu “eka pramana” ialah makhluk hidup yang hanya memiliki satu aspek kemampuan berupa bayu/tenaga/ hidup, seperti tumbuh-tumbuhan. “Dwi pramana” ialah makhluk hidup yang memiliki dua aspek kemampuan berupa bayu dan sabda/bicara, seperti hewan/binatang. “Tri pramana” ialah makhluk hidup yang memiliki tiga aspek kemampuan berupa bayu, sabda dan idep/pikiran, seperti manusia. 

Tri Hita Karana. Untuk dapat menghayati lebih luas lagi, ajaran cinta kasih dapat diwujud-nyatakan dalam interaksi sosial religius yaitu antara sesama manusia (pawongan), antara manusia dengan alam lingkungan (palemahan), dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parahyangan). Ketiga hal ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

Tat Twam Asi.
Adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi” yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1.

Refleksi Cinta Kasih.
Cinta kasih bukanlah sekedar penghias bibir atau buah bibir yang berbunga-bunga, akan tetapi sebuah realita yang tulus lascarya tanpa pamrih. Sesungguhnya bagi siapa saja yang telah mencapai tahap ini dapat dipastikan kehidupannya semakin tenteram, tenang, damai dan bahagia. Cinta kasih yang tulus lascarya memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih nan kunjung padam kepada semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa.

Dalam Brhadaranyaka Upanisad I. 4. 10. dinyatakan : “Aham Brahman Asmi” yang artinya Aku adalah Brahman/Tuhan. Sedangkan dalam Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : “Sarwam khalu idam Brahman” yang artinya semua ini adalah Brahman/Tuhan.

Dengan demikian tidak ada satupun di dunia ini yang lepas dari Dia. Menyadari bahwa asal dan tujuan kembalinya semua yang ada di dunia ini adalah sama, maka tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kekuatan hukum yang abadi, kecuali Tuhan. Yang berbeda hanyalah jasad materi yang sewaktu-waktu bisa berubah atau tidak kekal. Lalu apa yang harus dibangga-banggakan yang mengarah pada rusaknya perdamaian, kerukunan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini? Sejatinya kebanggaan sebagai umat manusia yang religius, karena berbudi luhur dan prestasi. Mengekspresikan kebanggaan hendaknya dengan arif dan bijaksana serta menampilkan simpati. Hal ini hendaknya menjadi renungan bagi tumbuhnya spiritualitas, moralitas dalam rangka meningkatkan sraddha kepada Sanghyang Widhi Wasa. Percaya kepada Tuhan sudah termasuk di dalamnya cinta kasih pada sesama manusia dan cinta kasih kepada alam lingkungan.

Keseimbangan Cinta Kasih. Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal. Terlebih lagi memasuki abad modern dan global dibutuhkan pemikiran secara arif dan bijaksana. Di satu sisi dituntut bersikap rasional, namun di sisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Maha Pencipta alam semesta beserta isinya.

Jalan terbaik adalah bagaimana mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relevansi keseimbangan cinta kasih dengan abad modern lebih difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memegang teguh nilai-nilai ke-Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman.

Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajur Weda 32. 8 dinyatakan “Sa’atah protasca wibhuh prajasu” yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan. 

Cinta kasih Dalam Keluarga. Yang sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta dalam kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta).

Dalam Atharwa Weda III.30 dinyatakan perkataan Pendeta kepada kelompok keluarga : ”Aku membuat engkau bersatu dalam hati, bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak sapi yang baru lahir dari induknya. Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia dan sehaluan dengan Ibunya. Agar si isteri berbicara yang manis, mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya. Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci. Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur dan berbicara dengan sopan. Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama.”

Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Kesimpulan.
Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa ajaran cinta kasih adalah bersifat umum (Samana) dan universal (Sadharana). Dalam perspektif Hindu ajaran cinta kasih diwujudnyatakan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Cinta kasih dapat diwujudkan apabila manusia memahami
secara sinergi antara perasaan emosi spiritual dan sikap rasional yang dilandasi dengan ajaran “Tat Twam Asi,” “Sarwam khalu idan Brahman,” “Aham Brahman asmi.”

Video  —  Posted: March 28, 2012 in Uncategorized